Ayat Kunci …Selamatkah engkau? Selamatkah suamimu? Selamatkah anakmu?” Jawabnya: “Selamat!—2 Raja-raja 4:26
B’Sorat HaRo’eh | Selasa, 5 Mei 2026
Seorang perempuan dari Sunem adalah orang yang berkecukupan. Ia tidak kekurangan. Namun yang membedakannya bukan apa yang ia miliki, tetapi kepekaan hatinya. Saat ia melihat Elisa, ia langsung melihatnya sebagai abdi Tuhan, dan dengan sukarela ia membuka rumahnya—menyediakan tempat bagi hamba Tuhan itu. Ia memberi, tanpa diminta. Dari situlah, Tuhan memberi sesuatu yang tidak pernah ia minta: seorang anak.
Ini seperti anugerah yang tiba-tiba datang dalam hidupnya. Tetapi waktu berjalan… dan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan terjadi. Anak itu sakit. Lalu mati. Apa yang Tuhan beri, sekarang diambil seolah hilang begitu saja. Di titik ini, imannya diuji. Ia bisa saja: menyalahkan, kecewa, atau menyerah. Tetapi ia tidak berhenti di sana. Ia tidak berlarut-larut dalam keadaan. Ia tidak mencari jawaban ke tempat lain.
Ia langsung pergi kepada Elisa. Saat ditanya apakah semuanya baik, ia menjawab: “Selamat.” Bukan karena keadaannya baik, tetapi karena ia tahu ke mana ia sedang pergi. Imannya tidak berhenti pada situasi—ia terus bergerak menuju Tuhan. Dan di situlah titik baliknya. Ia sampai kepada Elisa. Ia membawa pergumulannya kepada Tuhan. Dan Tuhan memulihkan anak itu. Kebenaran Utama: Iman yang sejati tidak berhenti di keadaan, tetapi terus datang kepada Tuhan.
Yang Harus Dilakukan Hari Ini: Tetap datang kepada Tuhan dalam satu pergumulan Anda hari ini, tanpa menyerah meskipun keadaan belum berubah.
Doa: Tuhan, ajarku untuk tetap percaya, bukan hanya saat semuanya baik, tetapi juga saat aku tidak mengerti apa yang terjadi. Pegang hatiku agar tidak goyah, dan tetap datang kepada-Mu dalam segala keadaan. Di dalam nama Tuhan Yesus, amin.
Study Kata: “Perempuan Sunem”. “Sunem” (שׁוּנֵם / Shunem) adalah nama sebuah tempat, dan kemungkinan berasal dari akar kata: “tenang / damai / tenteram”. Makna Kata Ini: Secara nama, Sunem menggambarkan: tempat yang tenang. Tetapi dalam cerita ini: justru terjadi pergumulan besar di sana. Bagi Kita Saat Ini: Hidup yang terlihat “baik-baik saja” tidak berarti bebas dari ujian. Tetapi yang membedakan adalah: bagaimana kita merespons saat badai datang. Intinya, Iman yang dewasa tidak berhenti saat keadaan berubah.
Refleksi Diri: Saat masalah datang, saya lebih sibuk memikirkan masalah, atau benar-benar datang kepada Tuhan?
Kata Bijak: Iman yang sejati tidak berhenti di masalah—ia terus berjalan menuju Tuhan—Yohanton Lapan.

Komentar
Posting Komentar