Ayat Kunci
Kiranya TUHAN menjauhkan aku dari pada memberikan milik pusaka nenek moyangku kepadamu—1 Raja-raja 21:3
B’Sorat HaRo’eh | Kamis, 30 April 2026
Ahab menginginkan kebun anggur Nabot. Secara manusia, permintaannya terlihat wajar. Ia menawarkan uang, bahkan pengganti yang lebih baik. Tetapi Nabot menolak.
Mengapa? Karena itu bukan sekadar tanah. Itu adalah warisan dari Tuhan. Bagi Nabot, ini bukan soal untung atau rugi, tetapi soal ketaatan. Ia tidak mau menukar apa yang Tuhan sudah tetapkan.
Namun Ahab tidak mendapatkan apa yang ia mau. Ia kecewa. Ia marah. Ia pulang dengan hati yang tidak tenang. Di situlah bahaya mulai muncul. Ketika keinginan tidak dikendalikan, hati kita mulai berubah. Kita tidak lagi berpikir tentang apa yang benar, tetapi tentang bagaimana mendapatkan apa yang kita inginkan.
Dalam keadaan seperti itu, kita menjadi mudah menerima cara apa pun. Dan di situlah Izebel masuk. Ia tidak memperdebatkan benar atau salah—ia hanya memastikan keinginan itu tercapai. Kebenaran diputarbalikkan. Nama baik dihancurkan. Nabot dibunuh.
Semua terlihat berhasil. Ahab mendapatkan kebun itu. Tetapi di hadapan Tuhan, itu bukan keberhasilan—itu dosa. Seringkali, kita pun bisa berjalan di arah yang sama. Kita menginginkan sesuatu, lalu mulai membenarkan cara. Kita tahu itu tidak sepenuhnya benar, tetapi tetap melakukannya karena hasilnya terlihat baik.
Tidak semua yang bisa kita dapatkan layak untuk kita ambil.
Kebenaran Utama: Keinginan yang tidak dikendalikan dapat membuat kita membenarkan cara yang salah.
Yang Harus Dilakukan Hari Ini
Periksa satu keinginan dalam
hidupmu hari ini—pastikan cara yang kamu ambil tetap benar di hadapan Tuhan,
bukan sekadar menghasilkan apa yang kamu inginkan.
Doa
Tuhan, aku tidak mau membenarkan cara yang salah hanya untuk mendapatkan apa
yang aku inginkan. Berikan aku hati yang takut akan Engkau, supaya aku tetap
memilih yang benar, apa pun hasilnya. Di dalam nama Tuhan Yesus, amin.
Study Kata: “Izebel”
Izebel (אִיזֶבֶל / ʾÎzeḇel)
adalah ratu Israel, istri Ahab, yang dikenal karena penyembahan berhala dan
tindakannya yang jahat.
Makna Kata Ini
Izebel bukan hanya tentang
kejahatan yang besar, tetapi tentang hati yang membenarkan cara untuk mencapai
tujuan. Ia tidak mencari kebenaran—ia mencari hasil.
Bagi Kita Saat Ini
Dalam hidup sehari-hari, kita
bisa tanpa sadar bersikap seperti Izebel. Bukan dengan kejahatan besar, tetapi
dengan cara-cara kecil yang kita anggap wajar: memutarbalikkan kebenaran,
mencari jalan pintas, atau membenarkan keputusan yang kita tahu tidak sepenuhnya
benar.
Masalahnya bukan pada keinginan
kita, tetapi pada cara kita mencapainya.
Intinya, Apa yang kita inginkan tidak pernah boleh membuat kita meninggalkan cara yang benar di hadapan Tuhan.
Refleksi Diri
Apakah ada keinginan dalam hidup
saya yang membuat saya mulai membenarkan cara yang sebenarnya tidak benar?
Kata Bijak
Saat keinginan menguasai hati,
cara yang salah bisa terasa benar—Yohanton Lapan.

Komentar
Posting Komentar