GBI Imanuel Surabaya | Pdt. Yohanton Lapan
B’Sorat HaRo’eh | Kamis, 14 Mei 2026
Ayat Kunci: “Kemudian berdirilah raja dekat tiang dan mengikat perjanjian di hadapan TUHAN…” (2 Raja-raja 23:3)
Setelah kitab Taurat ditemukan dan dibacakan, Yosia tidak berhenti pada rasa tersentuh. Ia tidak hanya berkata: “Firman Tuhan memang benar.” Yosia mengambil tindakan. Ia mengumpulkan bangsa itu. Firman Tuhan dibacakan di depan semua orang. Lalu Yosia mulai melakukan pembaharuan besar: menghancurkan berhala, membersihkan rumah Tuhan, membuang penyembahan palsu dan mengembalikan bangsa itu kepada Tuhan. Mengapa Yosia melakukan itu? Karena ia sadar: mengetahui kebenaran tidak ada artinya kalau hidup tidak berubah.
Seringkali orang merasa sudah dekat dengan Tuhan karena: tahu firman Tuhan, rajin ibadah atau mengerti mana yang benar. Tetapi masalahnya: hidupnya tetap sama. Yosia menunjukkan bahwa respon terhadap firman Tuhan bukan hanya: setuju, tersentuh atau merasa diberkati. Tetapi berani berubah. Dan perubahan itu tidak selalu nyaman. Ada hal-hal yang harus dibuang. Ada kebiasaan yang harus dihentikan. Ada sesuatu dalam hidup yang harus dibersihkan.
Makna: Momentum kenaikan Tuhan Yesus mengingatkan bahwa: Yesus bukan hanya datang untuk dikagumi, tetapi untuk ditaati. Dan iman yang benar tidak berhenti pada: mendengar, mengetahui atau merasa tergerak, tetapi iman yang benar terlihat dari hidup yang berubah.
Kebenaran Utama: Firman Tuhan yang sungguh diterima akan membawa seseorang berani berubah.
Yang Harus Dilakukan Hari Ini: Beranilah meninggalkan satu hal yang Anda tahu tidak lagi berkenan di hadapan Tuhan.
Doa: Tuhan, jangan biarkan aku hanya senang mendengar firmanMu tanpa berubah. Beriku keberanian untuk meninggalkan apa yang tidak benar dan hidup lebih sungguh mengikuti kehendakMu. Biarlah hidupku benar-benar diperbaharui oleh firmanMu. Di dalam nama Tuhan Yesus, amin.
Study Kata: “Pembaharuan yang dilakukan Yosia”. Dalam bagian ini, pembaharuan yang dilakukan Yosia bukan sekadar perbaikan luar. Ia menghancurkan pusat-pusat penyembahan berhala, membuang praktik-praktik dosa, dan mengembalikan bangsa itu kepada firman Tuhan. Pembaharuan itu nyata dan terlihat dalam tindakan.
Makna
dalam Teks: Yosia tidak hanya sedih
setelah mendengar firman Tuhan. Ia mengambil keputusan untuk membersihkan apa
yang selama ini menjauhkan bangsa itu dari Tuhan. Dan itu membutuhkan
keberanian. Karena perubahan sejati selalu menyentuh hal-hal yang selama ini
sudah dianggap biasa.
Bagi Kita Saat Ini: Banyak orang ingin dipulihkan Tuhan, tetapi tidak mau meninggalkan hal yang salah. Padahal pembaharuan sejati bukan hanya: merasa tersentuh, menangis saat ibadah atau merasa diberkati tetapi berani berubah setelah mendengar firman Tuhan. Intinya, Hidup tidak berubah hanya karena mendengar firman Tuhan, tetapi karena mau menaatinya.
Refleksi Diri: Apa yang Tuhan sudah tegur dalam hidup saya, tetapi sampai hari ini belum sungguh saya ubah?
Kata Bijak: Firman Tuhan tidak diberikan hanya untuk membuat kita tersentuh, tetapi untuk membuat kita berubah—Yohanton Lapan

Komentar
Posting Komentar